Mari Belajar Memahami Konsep Sosial Masyarakat bersama SMA N 3 Purworejo, Pasti Menyenangkan...
Kamis, 25 April 2013
KD 1. KELOMPOK SOSIAL KLAS XI SEMESTER GENAP
PENGERTIAN KELOMPOK SOSIAL
Secara sosiologis pengertian kelompok sosial adalah
suatu kumpulan orang-orang yang mempunyai hubungan dan saling berinteraksi satu
sama lain dan dapat mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama. Selain definisi
tersebut, ada beberapa ahli yang memberikan definisi mengenai kelompok sosial.
1. Joseph S. Roucek dan Roland S. Warren
Kelompok sosial adalah suatu kelompok yang memiliki dua atau lebih
manusia, yang diantara mereka terdapat beberapa pola interaksi yang dapat
dipahami oleh para anggotanya atau orang lain secara keseluruhan.
2. D. A. Wila Huky
Kelompok sosial adalah suatu unit yang terdiri atas dua orang atau lebih
yang saling berinteraksi satu sama lainnya.
3. Mayor Polak
Kelompok sosial adalah suatu group. Yaitu sejumlah orang yang saling
berhubungan satu sama lain dan hubungan itu bersifat sebagai struktur sosial.
Dalam
suatu kelompok masyarakat, seseorang harus dapat membedakan dua kepentingan,
yaitu ia sebagai makhluk individu dan sekaligus sebagai makhluk sosial. Sebagai
makhluk individu, manusia pada dasarnya mempunyai hasrat yang besar untuk
mengutamakan kepentingan diri sendiri. Namun, sebagai makhluk sosial, manusia
tidak mungkin dapat hidup tanpa bantuan orang lain secara berkelompok. Bahkan,
tidak ada satupun manusia yang dapat hidup tanpa adanya bantuan orang lain
disekitarnya. Oleh karena itu, di dalam kelompok itulah manusia dapat
meneruskan keturunannya secara wajar.
Dalam
proses pembentukan suatu kelompok sosial, terdapat beberapa ciri dasar dari suatu
kelompok. Menurut D. A. Wila Huky, ciri dasar tersebut adalah :
1. Kelompok selalu terdiri atas paling sedikit dua orang
dan dapat terus bertambah jumlah anggotanya. Dua orang ini haruslah orang
yang dapat memberikan respons mental.
2. Kelompok-kelompok sebenarnya tidak selalu terbentuk
karena memenuhi persyaratan jumlah anggotanya, yang terpenting adalah di antara
mereka ada saling interaksi dan komunikasi.
3. Komunikasi dan interaksi yang merupakan unsur pokok
suatu kelompok harus bersifat timbal balik. Komunikasi satu arah tidak
membentuk interaksi dalam kelompok. Anggota-anggota kelompok harus saling
memengaruhi satu sama lain.
4. Kelompok-kelompok itu bisa sepanjang hidup atau jangka
panjang, tetapi juga bisa bersifat sementara atau jangka pendek. Kelompok-kelompok
ini ada hanya sepanjang adanya interaksi timbal balik.
5. Kelompok dan ciri kehidupan kelompok juga dapat
ditemukan di antara kehidupan binatang. Misalnya semut, kera, harimau, dan
sebagainya.
6. Minat dan kepentingan bersama merupakan warna utama pembentukan
kelompok. Walaupun demikian, dapat juga pembentukan kelompok tanpa adanya
persamaan minat dan kepentingan.
7. Pembentukan kelompok dapat berdasarkan pada situasi
yang beraneka ragam, di mana dalam situasi itu manusia dituntut untuk bersatu.
8. Kelompok merupakan satu kesatuan dalam dirinya
sendiri. la memiliki warna dan ciri sendiri yang berbeda dari lainnya, bahkan
berbeda dengan anggota-anggotanya secara pribadi.
PROSES TERBENTUKNYA KELOMPOK SOSIAL
Menurut
Abdul Syani, terbentuknya suatu kelompok sosial karena adanya naluri manusia
yang selalu ingin hidup bersama. Hal itulah sebabnya, maka dalam masyarakat manusia dapat
dipersamakan dengan masyarakat binatang. Manusia sejak dilahirkan di dunia ini sudah
mempunyai kecenderungan atas dasar dorongan nalurinya secara biologis untuk
hidup berkelompok. Namun, dalam perkembangan selanjutnya manusia hidup tidak
hanya sekadar membutuhkan hidup secara biologis belaka, akan tetapi manusia
mempunyai kehendak dan kepentingan yang tak terbatas. Oleh karena
itulah, manusia selalu hidup berkelompok untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Anderson
dan Parker menekankan bahwa kelompok adalah kesatuan dari dua atau lebih
individu yang mengalami interaksi psikologis satu sama lain. Manusia
membutuhkan komunikasi dalam membentuk kelompok, karena melalui
komunikasi orang dapat mengadakan ikatan dan pengaruh psikologis secara timbal
balik. Komunikasi dan interaksi ini selanjutnya akan mengakibatkan terbentuknya
norma sosial. Ada dua hasrat
pokok yang dimiiiki manusia sehingga ia terdorong untuk hidup berkelompok, yaitu:
1.
Hasrat
untuk bersatu dengan manusia lain di sekitarnya.
2. Hasrat untuk bersatu dengan situasi alam sekitamya.
Secara
kodrati, memang harus diakui bahwa manusia dalam hidupnya harus bermasyarakat. Manusia yang hidup sendiri dan tidak bermasyarakat dianggap tidak wajar, bahkan mungkin bisa sakit jiwa atau mati. Mengapa demikian ? Diskusikanlah jawabannya melalui kelompok belajarmu di rumah.
SYARAT
KELOMPOK SOSIAL
Setiap
kelompok manusia tidak selalu
dinamakan sebagai kelompok sosial. Karena sebuah kelompok
sosial memerlukan beberapa
persyaratan tertentu. Berikut ini beberapa persyaratan sebuah kumpulan
manusia dapat disebut sebagai kelompok sosial, yaitu:
1.
Setiap
anggota harus sadar bahwa dia
merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan.
2.
Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dan anggota yang
lainnya dalam kelompok itu.
3.
Ada suatu faktor yang dimilik bersama sehingga hubungan
antara mereka bertambah erat. Faktor tersebut dapat berupa nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama,
ideologi politik yang sama, dan sebagainya. Bahkan,
faktor luar yang berupa musuh bersama juga dapat menjadi faktor pengikat untuk
bersatu.
4.
Berstruktur,
berkaidah, dan mempunyai pola perilaku. Emile Durkheim memandang kelompok
manusia dari dua segi, yaitu segi mekanik dan segi organisatorik
fungsional. Bentuk mekanik merupakan suatu bentuk yang naluriah, yang
ditentukan oleh pengaruh ikatan geografis, biogenesis, dan keturunan lebih lanjut. Ikatan kelompok ini hanya mencapai taraf
solidaritas mekanik, sedangkan ikatan organisatoris fungsional merupakan hasil
kesadaran manusia atau keinginan yang rasional.
5.
Bersistem
dan berproses.
Ada beberapa macam kelompok sosial yang dapat
diklasifikasikan sebagai berikut.
Kelompok
sosial, menurut Soerjono Soekanto dapat diklasifikasikan menjadi beberapa
macam, yaitu :
a.
Berdasarkan
Besar Kecilnya Anggota Kelompok
Menurut George Simmel, besar kecilnya jumlah anggota kelompok akan
memengaruhi kelompok dan pola interaksi sosial dalam kelompok tersebut. Dalam
penelitiannya, Simmel memulai dari satu orang sebagai perhatian hubungan sosial
yang dinamakan monad. Kemudian monad dikembangkan
menjadi dua orang atau diad, dan tiga orang atau triad, dan kelompok-kelompok kec؛l lainnya. Hasilnya semakin banyak jumlah anggota
kelompoknya, pola interaksinya juga berbeda.
b.
Berdasarkan
Derajat Interaksi dalam Kelompok
Derajat interaksi ini dapat dilihat pada beberapa
kelompok sosial yang berbeda. Kelompok sosial seperti keluarga, rukun tetangga,
masyarakat desa, akan mempunyai kelompok yang anggotanya saling mengenal dengan
baik (face-to-face groupings). Hal ini
berbeda dengan kelompok sosial seperti masyarakat kota, perusahaan, atau
negara, di mana anggota-anggotanya tidak mempunyai hubungan yang erat.
c.
Berdasarkan
kepentingan dan wilayah
Sebuah masyarakat setempat (community) merupakan suatu kelompok sosial atas dasar wilayah
yang tidak mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu. Sedangkan asosiasi (association) adalah
sebuah kelompok sosial yang dibentuk untuk memenuhi kepentingan tertentu. Jadi,
antara anggota sebuah community dan association harus menyadari adanya kepentingan-kepentingan bersama
walaupun tidak secara terperinci.
d.
Berdasarkan
Kelangsungan Kepentingan
Adanya kepentingan bersama merupakan salah satu faktor
yang menyebabkan terbentuknya sebuah kelompok sosial. Suatu kerumunan misalnya, merupakan kelompok yang keberadaannya hanya sebentar
karena kepentingannya juga tidak berlangsung lama. Namun, sebuah community mempunyai
kepentingan yang relatif tetap (permanen).
e.
Berdasarkan
derajat organisasi
Kelompok sosial terdiri atas kelompok-kelompok sosial yang terorganisasi dengan rapi, seperti negara, TNI, perusahaan, dan sebagainya. Namun, ada
kelompok sosial yang hampir tidak terorganisiasi dengan
baik, seperti : kerumunan.
Secara umum
tipe-tipe kelompok sosial adalah :
a.
Kategori
statistik, yaitu pengelompokan atas dasar ciri tertentu yang sama, misalnya kelompok umur.
b.
Kategori
sosial, yaitu kelompok individu yang sadar akan ciri-ciri yang dimiliki
bersama, misainya ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia).
c.
Kelompok
sosial, misalnya keluarga batih.
d.
Kelompok
tidak teratur, yaitu berkumpulnya orang-orang di suatu tempat pada waktu yang
sama karena adanya pusat perhatian yang sama. Misalnya, orang yang sedang menonton sepak bola.
e.
Organisasi formal, yaitu
kelompok yang sengaja dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu yang telah
ditentukan terlebih dulu, misalnya perusahaan.
2. Kelompok Sosial Dipandang dari Sudut Individu
Pada masyarakat yang kompleks, biasanya setiap manusia
tidak hanya mempunyai satu kelompok sosial tempat ia menjadi anggotanya. Namun,
ada juga menjadi anggota beberapa kelompok sosial sekaligus. Terbentuknya
kelompok-kelompok sosial ini biasanya didasari oleh kekerabatan, usia, jenis
kelamin, pekerjaan, atau kedudukan. Keanggotaan masing-masing kelompok sosial
tersebut akan memberikan kedudukan dan prestise tertentu. Namun, yang perlu
digaris bawahi adalah sifat keanggotaan suatu kelompok tidak selalu bersifat
sukarela, tapi ada juga yang sifatnya paksaan. Misalnya, selain sebagai anggota
kelompok di tempatnya bekerja, Pak Tomo juga anggota masyarakat, anggota
perkumpulan bulu tangkis, anggota Ikatan Advokat Indonesia (IAI), anggota
keluarga, anggota paguyuban masyarakat Jawa, dan sebagainya.
3. In-Group dan Out-Group
Sebagai
seorang individu, kita sering merasa bahwa aku termasuk dalam bagian kelompok
keluargaku, margaku, profesiku, rasku, suku bangsaku, jenis keiaminku, dan
negaraku. Semua kelompok tersebut berakhir dengan kepunyaan “ku’’. Itulah yang dinamakan kelompok sendiri karena
aku termasuk di dalamnya. Banyak kelompok lain, di mana aku tidak termasuk
keluarga, ras, suku bangsa, jenis kelamin, pekerjaan, kebangsaan, agama, dan
kelompok bermain. Semua itu merupakan kelompok luar karena aku berada di
luarnya.
Mengutip
pendapat R.M. Mac Iver dan C.H. Page, bahwa di dalam sebuah proses sosialisasi,
orang mendapatkan pengetahuan antara “kami”-nya dengan “mereka”-nya yang dibuat oleh individu. Kelompok sosial
di mana individu mengidentifikasikan dirinya, merupakan in-group-nya. Jadi,
apabila suatu kelompok sosial merupakan in-group atau tidak, bersifat
relatif dan bergantung pada situasi sosial tertentu. Sedangkan out-group
diartikan oleh individu sebagai kelompok yang menjadi lawan in-group- nya.
la sering dikatakan dengan istilah “kami” atau “kita” dan “mereka”, seperti
kita siswa SMA sedangkan mereka mahasiswa, kami siswa jurusan IPS sedangkan
mereka siswa jurusan IPA, kami siswa kelas dua sedangkan mereka siswa kelas
satu, dan sebagainya. Sikap-sikap in-group pada umumnya didasarkan pada
faktor simpati dan selalu mempunyai perasaan dekat dengan anggota-anggota
kelompok.
In-group dan out-group dapat dijumpai di semua
masyarakat, walaupun kepentingan- kepentingannya tidak selalu sama. Pada
masyarakat primitif yang masih terbelakang kehidupannya biasanya akan
mendasarkan diri pada keluarga yang akan menentukan kelompok sendiri dan
kelompok luar seseorang. Jika ada dua orang yang saling tidak kenal berjumpa
maka hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari hubungan antara keduanya.
Jika mereka dapat menemukan adanya hubungan keluarga maka keduanya pun akan
bersahabat karena keduanya merupakan anggota dari kelompok yang sama. Namun,
jika mereka tidak dapat menemukan adanya kesamaan hubungan keluarga maka mereka
adalah musuh sehingga merekapun akan bereaksi.
Pada
masyarakat modern, setiap orang mempunyai banyak kelompok
sehingga mungkin saja saling tumpah tindih dengan kelompok luarnya. Siswa lama
selalu memperiakukan siswa baru sebagai kelompok luar, tetapi ketika berada di
dalam gedung olahraga mereka pun bersatu untuk mendukung tim sekolah
kesayangannya.
Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa setiap kelompok sosial merupakan in-group
bagi anggotanya. Konsep tersebut dapat diterapkan baik terhadap kelompok - kelompok sosial yang relatif kecil sampai
yang terbesar selama para anggotanya mengadakan identifikasi dengan
Kelompoknya.
4.
Kelompok Primer (Primary
Group) dan Kelompok Sekunder (Secondary Group)
Menurut
Charles Horton Cooley, kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang ditandai
dengan ciri-ciri saling mengenal antara anggota-anggotanya serta kerja sama
erat yang bersifat pribadi. Sebagai salah satu hasil hubungan yang erat dan
bersifat pribadi tadi adalah adanya peleburan individu- individu ke dalam
kelompok-kelompok sehingga tujuan individu menjadi tujuan kelompok juga. Oleh
karena itu, hubungan sosial di dalam kelompok primer bersifat informal (tidak
resmi), akrab, personal, dan total yang mencakup berbagai aspek pengalaman
hidup seseorang.
Dalam
kelompok primer, seperti : keluarga, klan, atau sejumlah sahabat,
hubungan sosial cenderung bersifat santai. Para anggota kelompok saling tertarik satu sama lainnya sebagai suatu pribadi. Mereka
menyatakan harapan-harapan dan kecemasan-kecemasan, berbagai pengalaman,
mempergunjingkan gosip, dan saling memenuhi kebutuhan akan keakraban sebuah
persahabatan.
Di sisi
lain, kelompok sekunder adalah kelompok-kelompok besar yang terdiri atas banyak
orang, antara dengan siapa hubungannya tidak perlu berdasarkan pengenalan secara pribadi dan sifatnya juga tidak begitu langgeng. Dalam
kelompok sekunder, hubungan sosial bersifat formal, impersonal, dan segmental (terpisah), serta
didasarkan pada asas manfaat
( Utilitarian ). Seseorang
tidak berhubungan dengan orang lain sebagai
suatu pribadi, tetapi sebagai seseorang yang berfungsi dalam menjalankan suatu
peran. Kualitas pribadi tidak begitu penting, tetapi cara kerjanya.
Kelompok
sekunder dapat berbentuk serikat pekerja, kerja sama dagang, Persatuan Orang
Tua Murid dan Guru ( POMG ), atau hanya terdiri atas dua orang
individual yang tawar-menawar secara singkat di depan loket pembayaran.
Kelompok ini lahir hanya untuk memenuhi sebagian tujuan khusus dan terbatas
yang hanya melibatkan sebagian dari kepribadian para anggotanya.
5. Paguyuban (Gemeinschaft) dan Patembayan (Gesellschaft)
Konsep paguyuban (gemeinschaft) dan patembayan (gesellschaft) merupakan konsep yang
kurang lebih sama dengan konsep kelompok primer dan kelompok sekunder yang dikembangkan oleh Ferdinand
Tonnies. Kedua istilah ini secara umum
dapat diterjemahkan
sebagai komunitas (community) dan masyarakat (society).
Pengertian paguyuban
adalah suatu bentuk kehidupan bersama, di mana anggota-anggotanya diikat
oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah, serta kekal. Dasar
hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan.
Kehidupan tersebut juga bersifat nyata dan organis, sebagaimana diumpamakan
dengan organ tubuh manusia atau hewan. Bentuk paguyuban terutama akan
dijumpai di dalam keluarga, kelompok kekerabatan, rukun tetangga, dan
sebagainya. Secara umum, ciri-ciri paguyuban adalah :
1.
Intimate, yaitu
hubungan yang bersifat menyeluruh dan mesra.
2.
Private, yaitu
hubungan yang bersifat pribadi dalam arti khusus untuk beberapa orang saja.
3.
Exclusive, yaitu
hubungan tersebut hanyaiah untuk “kita” saja dan tidak untuk orang lain di luar “kita”.
Di dalam
paguyuban terdapat kemauan bersama (common
will), adanya
suatu pengertian (understanding), serta
kaidah-kaidah yang timbul dengan sendirinya dari kelompok tersebut. Apabila ada
pertentangan antara anggota paguyuban tidak dapat
diselesaikan dalam satu hal saja. Hal ini disebabkan adanya hubungan yang
menyeluruh antara anggota-anggotanya. Oleh karena itu, suatu pertentangan yang
kecil harus diatasi, agar tidak menjalar ke bidang-bidang lainnya.
Di dalam
setiap masyarakat selalu dapat dijumpai salah satu di antara tiga tipe paguyuban berikut.
1.
Paguyuban karena ikatan darah (gemeinschaft by blood), yaitu gemeinschaft atau paguyuban yang
merupakan ikatan yang didasarkan pada ikatan darah atau keturunan. Misalnya,
keluarga dan kelompok kekerabatan.
2.
Paguyuban karena tempa؛ (gemeinschaft of
place), yaitu suatu paguyuban yang terdiri atas orang-
orang yang berdekatan tempat tinggal sehingga dapat saling tolong-menolong.
Misalnya kelompok arisan dan rukun tetangga.
3.
Paguyuban karena jiwa pikiran (gemeinschaft of
mind), yaitu paguyuban yang terdiri atas orang- orang
yang walaupun tidak mempunyai hubungan darah ataupun tempat tinggalnya tidak
berdekatan, akan tetapi mereka mempunyai jiwa, pikiran, dan ideologi yang sama.
Ikatan pada paguyuban semacam ini biasanya tidak sekuat paguyuban
karena darah atau keturunan.
Sebaliknya,
patembayan (gesellschaft) adalah ikatan lahir yang bersifat pokok untuk
jangka waktu tertentu yang pendek. Patembayan bersifat sebagai suatu
bentuk dalam pikiran belaka (imaginary)
serta strukturnya bersifat mekanis seperti
sebuah mesin. Bentuk gesellschaft terutama terdapat di dalam hubungan
perjanjian yang bersifat timbal balik. Misalnya, ikatan perjanjian kerja, birokrasi
dalam suatu kantor, perjanjian dagang, dan sebagainya.
Dalam patembayan
terdapat public life, yaitu suatu
hubungan yang bersifat untuk semua orang. Batas-batas antara kami dengan “bukan kami” sangat kabur. Pertentangan-pertentangan
yang terjadi antara anggota dapat dibatasi pada bidang-bidang tertentu sehingga
persoalan dapat dilokalisasi.
6.
Formal Group dan Informal
Group
Menurut Soerjono Soekanto, formal
group adalah
kelompok yang mempunyai peraturan yang tegas dan sengaja diciptakan oleh
anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antara sesamanya. Kriteria rumusan organisasi formal group
merupakan keberadaan tata cara untuk memobilisasikan
dan mengoordinasikan usaha-usaha demi tercapainya tujuan berdasarkan
bagian-bagian organisasi yang
bersifat khusus. Jika hubungan anggota formal
group dan 'semua
kegiatan didasarkan pada aturan sebelumnya yang sudah ditentukan, tidak semua
masalah dapat ditanggulangi. Hal ini karena proses
interaksi sosial dan kegiatan dalam organisas؛ tidak
mungkin dapat dijalankan semua.
Organisasi biasanya
ditegakkan pada landasan mekanisme administratif. Misalnya, sekolah terdiri
atas beberapa bagian, seperti kepala sekolah, guru, siswa, orang tua murid, bagian administrasi, dan
lingkungan sekitarnya. Organisasi seperti itu
biasanya dinamakan birokrasi. Menurut Max Weber, organisas؛ yang
didirikan secara birokrasi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a.
Tugas-tugas
organisasi didistribusikan dalam beberapa posisi yang merupakan
tugas-tugas jabatan.
b.
Posisi
dalam organisasi terdiri atas hierarki struktur wewenang.
c.
Suatu
sistem peraturan memengaruhi keputusan dan pelaksanaannya.
d.
Unsur staf
yang merupakan pejabat, bertugas memelihara organisasi dan khususnya keteraturan organisasi.
e.
Para
pejabat berharap agar hubungan atasan dengan bawahan dan pihak lain bersifat orientas؛ impersonal.
f.
Penyelenggaraan
kepegawaian didasarkan pada karier.
Sedangkan pengertian informal group adalah kelompok yang tidak mempunyai struktur dan organisasi yang pasti.
Kelompok-kelompok tersebut biasanya terbentuk karena pertemuan-pertemuan yang
berulang kali. Dasar pertemuan-pertemuan tersebut adalah
kepentingan-kepentingan dan pengalaman-pengalaman yang sama. Misalnya klik (clique), yaitu suatu kelompok kecil tanpa struktur formal
yang sering timbul dalam kelompok-kelompok besar. Klik
tersebut ditandai dengan adanya pertemuan-pertemuan timbal balik antaranggota yang biasanya hanya “antarkita” saja.
7.
Membership Group dan Reference Group
Mengutip pendapat Robert K. Merton, bahwa membership group
adalah suatu kelompok sosial, di mana setiap orang
secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Batas-batas fisik yang dipakai
untuk menentukan keanggotaan seseorang tidak dapat ditentukan secara mutlak.
Hal ini disebabkan perubahan-perubahan keadaan. Situasi yang tidak tetap akan
memengaruhi derajat interaksi di dalam kelompok tadi sehingga adakalanya
seorang anggota tidak begitu sering berkumpul dengan kelompok tersebut walaupun
secara resmi dia belum keluar dari kelompok itu. Keadaan seperti ini dapat
dijumpai pada kelompok informal (informal
group),
Reference group
adalah kelompok sosial yang menjadi acuan bagi
seseorang ( bukan anggota kelompok ) untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Dengan kata lain,
seseorang yang bukan anggota kelompok sosial
bersangkutan mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok tadi. Misalnya,
seseorang yang ingin sekali menjadi anggota TNI, tetapi gagal memenuhi
persyaratan untuk memasuki lembaga pendidikan militer. Namun, ia bertingkah
laku layaknya seorang perwira TNI meskipun dia bukan anggota TNI.
Beberapa
tipe umum dari reference group antara lain:
a.
Tipe normatif (normative type) yang menentukan dasar-dasar bagi kepribadian
seseorang.
b.
Tipe perbandingan (comparison type) yang merupakan pegangan bagi individu di dalam menilai
kepribadiannya.
Antara membership group dan reference
group sulit sekali
dipisahkan. Contohnya saja seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Seorang Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat merupakan membership group bagi dirinya, akan tetapi jiwa
dan jalan pikirannya tetap terikat pada reference group-nya, yaitu
partai politik. Hal ini sering membawa dampak negatif karena anggota dewan
yang terhormat tadi terlampau berpegang pada
prinsip-prinsip reference group.
8. Kelompok Okupasional dan Volunteer
Pada awalnya suatu masyarakat, menurut Soerjono Soekamto, dapat
melakukan berbagai pekerjaan sekaligus. Artinya, di dalam masyarakat tersebut
belum ada pembagian kerja yang jelas. Akan tetapi, sejalan dengan kemajuan
peradaban manusia, sistem pembagian kerja pun berubah. Salah satu bentuknya
adalah masyarakat itu sudah berkembang sistem pembagian kerja yang didasarkan
pada kekhususan atau spesialisasi. Warga masyarakat akan bekerja sesuai dengan
bakatnya masing-masing. Bahkan saat ini sudah bermunculan pabrik-pabrik dimana
pekerjanya hanya bertanggungjawab atas satu unsur tertentu saja dari
keseluruhan hasil produksi. Setelah kelompok kekerabatan yang semakin pudar
fungsinya, muncul kelompok okupasional yang merupakan kelompok terdiri atas
orang-orang yang mengarahkan kepribadian seseorang terutama para anggotanya.
Dengan semakin berkembangnya masyarakat, pengkhususan juga dikembangkan
secara ilmiah dan dipusatkan pada lembaga-lembaga pendidikan. Mereka yang lulus
dari lembaga tersebut akan menjadi tenaga yang terampil dan menguasai ilmu yang
dipelajarinya. Melalui keahliannya mereka membantu masyarakat untuk melaksanakan
fungsi-fungsi tertentu.
Sejalan dengan berkembangnya teknologi komunikasi, hampir idak ada
masyarakat yang tertutup dari dunia luar. Sehingga ruang jangkauan suatu
masyarakat pun semakin luas. Meluasnya ruang jangkauan ini mengakibatkan
semakin heterogennya masyarakat tersebut. Akhirnya tidak semua kepentingan
individual warga masyarakat dapat dipenuhi.
Akibat dari tidak terpenuhinya kepentingan-kepentingan masyarakat secara
keseluruhan, munculah kelompok volunteer. Kelompok ini mencakup
orang-orang yang mempunyai kepentingan sama, namun tidak mendapatkan perhatian
masyarakat yang semakin luas jangkauannya tadi. Dengan demikian, kelompok volunteer
dapat memenuhi kepentingan-kepentingan anggotanya secara individual tanpa
mengganggu kepentingan masyarakat secara luas.
Beberapa kepentingan itu, antara lain :
a.
Kebutuhan akan sandang,
pangan, dan papan.
b.
Kebutuhan akan
keselamatan jiwa dan harta benda.
c.
Kebutuhan akan harga
diri.
d.
Kebutuhan untuk
mengembangkan potensi diri.
e.
Kebutuhan akan kasih
sayang.
KONSEKUENSI PERUBAHAN SOSIAL, EKONOMI, POLITIK, DAN
BUDAYA TERHADAP PERKEMBANGAN KELOMPOK SOSIAL
Perkembangan kelompok sosial akan menentukan kehidupan
kelompok di masa yang akan datang. Apalagi perkembangan masyarakat yang semakin
kompleks dengan adanya heterogenitas dan spesialisasi dalam berbagai bidang
kehidupan, maka diperlukan adanya kelompok-kelompok sosial yang resmi.
Dalam perkembangannya,
masyarakat dapat dikelompokkan menjadi dua. Yaitu masyarakat pedesaan dan masyarakat
perkotaan. Masyarakat pedesaan merupakan masyarakat yang umumnya memiliki mata
pencaharian bertani atau berkebun. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas
dasar kekeluargaan dan mempunyai hubungan sosial yang erat serta mendalam
diantara anggotanya.
Sedangkan masyarakat
kota merupakan kelompok sosial yang mendiami wilayah yang luas. Sebagian besar
penduduknya bermata pencaharian di sektor industri, hasa, dan perdagangan.
Keanggotaan masyarakat kota tidak saling mengenal, lebih terikat kontrak, dan
mulai meninggalkan tradisi. Apabila dilihat lebih jauh, maka perkembangan
sosial, ekonomi, politik, dan budaya akan mempengaruhi perkembangan kelompok
sosial.
1. Sosial
Dalam perkembangan kehidupan manusia, kelompok-kelompok
sosial akan terus mengalami perubahan. Sistem kekerabatan sudah mulai memudar
dan digantikan dengan kelompok-kelompok sosial yang bersifat resmi. Hubungan
yang erat hanya terdapat pada lingkungan keluarga. Sistem komunikasi sudah
digantikan dengan interaksi yang tidak langsung. Masyarakat lebih suka
menggunakan telepon dan internet dalam melakukan hubungan sosial dari pada
harus bertemu secara langsung. Nilai-nilai kehidupan sosial sudah berdasarkan
nilai kontrak kerja dan nilai individualistis. Masyarakat lebih suka bergabung
dengan kelompok-kelompok sosial berdasarkan profesi atau hobbynya secara
formal, seperti Ikatan Dokter Indonesia ( IDI ), Ikatan Sarjana Ekonomi
Indonesia ( ISEI ), Serikat Buruh Indonesia ( SBI ), dan sebagainya.
2. Ekonomi
Ekonomi merupakan aspek yang berhubungan dengan upaya
manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan jumlah alat pemuas
kebutuhan yang jumlahnya terbatas, maka manusia menciptakan adanya
prinsip-prinsip ekonomi, yaitu dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk
menghasilkan barang dan jasa yang sebesar-besarnya. Akhirnya manusia akan
menciptakan kelompok-kelompok ekonomi, seperti sistem pertukaran barang dan
jasa, koperasi, serikat buruh, perseroan terbatas, dan sebagainya.
Bagi masyarakat kota, perkembangan ekonominya dapat
dilihat dari pembangunan pasar swalayan dan pusat-pusat perbelanjaan yang
dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang memudahkan orang untuk bertransaksi.
Transaksi jual-beli pun sudah berkembang, selain menggunakan uang tunai, juga
menggunakan sistem kartu debit dan kartu kredit. Bagi masyarakat desa,
perkembangan ekonominya relatif lebih lambat. Masyarakatnya akan cenderung
mempertahankan sistem lama, dengan alasan lebih mudah dan di anggap aman.
Akibatnya perkembangan sistem ekonomi antara masyarakat desa dengan masyarakat
kota sangat berbeda.
3. Politik
Tingkat kesadaran politik masyarakat desa lebih rendah
daripada masyarakat kota. Adanya perkembangan sistem komunikasi dan informasi
yang semakin canggih menyebabkan masyarakat kota lebih kritis terhadap
kehidupan politik. Partai-partai politik pun semakin berkembang menyatukan
masyarakat yang mempunyai ideologi yang sama. Apabila terdapat perbedaan paham
antara masyarakat dengan pemerintah, maka masyarakat kota cenderung lebih
berani memberikan kritik dan saran kepada pemerintah.
4. Budaya
Perkembangan budaya masyarakat desa cenderung lebih
lambat daripada masyarakat kota. Budaya-budaya lama akan cenderung bertahan
lebih lama. Hal ini berbeda dengan masyarakat kota yang terbuka terhadap
berbagai macam perubahan sosial. Masyarakat kota cenderung lebih cepat menerima
kebudayaan-kebudayaan asing yang memasuki wilayahnya. Akibatnya kebudayaan
masyarakat kota cenderung lebih kompleks dan senantiasa mengalami perubahan.
KELOMPOK SOSIAL YANG TIDAK TERATUR
Setelah membahas
macam-macam kelompok yang teratur, kini saatnya untuk membahas kelompok yang
tidak teratur. Kelompok tidak teratur, misalnya : Kerumunan dan Publik.
1. Kerumunan ( Crowd )
Kerumunan adalah sekelompok individu yang berkumpul
secara kebetulan disuatu tempat pada waktu yang bersamaan. Ukuran utama adanya
kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara fisik. Sedikit banyaknya jumlah
kerumunan adalah sejauh mata dapat melihat dan selama telinga dapat mendengarkannya.
Kerumunan tersebut segera mati stelah orang-orangnya bubar. Oleh karena itu,
kerumunan merupakan suatu kelompok sosial yang bersifat sementara ( temporer ).
Kerumunan jelas tidak terorganisasi. Ia dapat
mempunyai pimpinan, akan tetapi tidak mempunyai sistem pembagian kerja maupun
sistem pelapisan sosial. Artinya, interaksi didalamnya bersifat spontan dan
tidak terduga, serta orang-orang yang hadir dan berkumpul mempunyai kedudukan
sosial yang sama. Akibatnya, identitas seseorang biasanya akan tenggelam
apabila orang yang bersangkutan ikut serta dalam kerumunan.
Secara garis besar, Kingsley Davis membedakan bentuk
kerumunan menjadi :
a. Kerumunan yang Berartikulasi dengan
Struktur Sosial
Kerumunan ini dibedakan menjadi :
1) Khalayak penonton atau pendengar yang
formal ( Formal Audiences ), merupakan kerumunan yang mempunyai pusat perhatian
dan tujuan yang sama. Misalnya, menonton film, mengikuti kampanye politik, dan
sebagainya.
2) Kelompok expressive yang telah direncanakan
( Planned Expressive Group ), yaitu kerumunan yang pusat perhatiannya tidak
begitu penting, akan tetapi mempunyai persamaan tujuan yang tersimpul dalam
aktivitas kerumunan tersebut.
b. Kerumunan yang Bersifat Sementara ( Casual
Crowds )
Kerumunan ini dibedakan menjadi :
1) Kumpulan yang kurang menyenangkan (
inconvenient aggregation ). Misalnya : orang yang sedang antri tiket,
orang-orang yang menunggu kereta.
2) Kerumunan orang-orang yang sedang dalam
keadaan panik ( panic crowds ), yaitu orang-orang yang bersama-sama berusaha
untuk menyelamatkan diri dari bahaya. Dorongan dalam diri individu-individu
yang berkerumun tersebut mempunyai kecenderungan untuk mempertinggi rasa panik.
Misalnya, ada kebakaran dan gempa bumi.
3) Kerumunan penonton ( spectator crowds ),
yaitu kerumunan yang terjadi karena ingin melihat kejadian tertentu. Misalnya,
ingin melihat korban lalu lintas.
c. Kerumunan yang Berlawanan dengan
Norma-norma Hukum ( Lawless Crowds )
Kerumunan ini dapat dibedakan menjadi :
1) Kerumunan yang bertindak emosional ( acting
mobs ), yaitu kerumunan yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu dengan
menggunakan kekuatan fisik yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
Misalnya : aksi demokrasi.
2) Kerumunan yang bersifat immoral ( immoral
crowds ), yaitu kerumunan yang hampir sama dengan kelompok expressive. Bedanya
adalah bertentangan dengan norma-norma masyarakat. Misalnya : orang-orang yang
mabuk.
2. Publik
Berbeda dengan kerumunan. Publik lebih merupakan
kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi terjadi secara tidak langsung
melalui alat-alat komunikasi, seperti pembicaraan pribadi yang berantai,
desas-desus, surat kabar, radio, televisi, film, dan sebagainya. Alat-alat
penghubung semacam ini lebih memungkinkan suatu publik mempunyai
pengikut-pengikut yang lebih luas dan lebih besar. Akan tetapi, karena
jumlahnya sangat besar, tidak ada pusat perhatian yang tajam, sehingga kesatuan
juga tidak ada.
MASYARAKAT SETEMPAT ( COMMUNITY )
Masyarakat setempat
adalah suatu masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah ( dalam arti
geografi ) dengan batas-batas tertentu. Faktor utama yang menjadi dasarnya
adalah interaksi yang lebih besar diantara anggota dibandingkan dengan
interaksi penduduk diluar batas wilayahnya.
Secara garis besar,
masyarakat setempat berfungsi sebagai ukuran untuk menggarisbawahi Kedekatan
hubungan antara hubungan sosial dengan suatu wilayah geografis tertentu. Akan
tetapi, tempat tinggal tertentu saja belum cukup untuk membentuk suatu masyarakat
setempat. Hal ini masih dibutuhkan adanya perasaan komunitas ( Community
Sentiment )
1. Seperasaan
Unsur seperasaan akibat seseorang berusaha untuk mengidentifikasikan
dirinya dengan sebanyak mungkin orang alam kelompok tersebut. Akibatnya, mereka
dapat menyebutnya sebagai “Kelompok Kami” atau “Perasaan Kami”.
2. Sepenanggungan
Setiap individu sadar akan peranannya dalam kelompok dan keadaan
masyarakat sendiri memungkinkan peranannya dalam kelompok.
3. Saling Memerlukan
Individu yang bergabung dalam masyarakat setempat merasakan dirinya
tergantung pada komunitas yang meliputi kebutuhan fisik maupun biologis.
Untuk
mengklasifikasikan masyarakat setempat, dapat digunakan empat kriteria yang
saling berhubungan, yaitu :
1. Jumlah penduduk.
2. Luas, kekayaan, dan kepadatan penduduk
daerah pedalaman.
3. Fungsi-fungsi khusus masyarakat setempat
terhadap seluruh masyarakat.
4. Organisasi masyarakat yang berangkutan.
KELOMPOK KECIL ( SMALL GROUP )
Kelompok
kecil adalah suatu kelompok yang secara teoritis terdiri dari paling sedikit
dua orang yang saling berhubungan untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu dan
menganggap hubungan itu sendiri penting baginya. Oleh karena itu, kelompok
sosial merupakan wadah bagi orang-orang yang mempunyai kepentingan-kepentingan
yang sama. Kelompok ini selalu timbul dalam kerangka organisasi yang lebih
besar dan luas, misalnya keluarga batih.
Kelompok kecil sangat penting untuk dipelajari. Sebab :
1. Kelompok-kelompok kecil tersebut mempunyai
pengaruh yang besar terhadap masyarakat dengan perilakunya.
2. Dalam kelompok kecil, pertemuan antara
kepentingan sosial dan kepentingan individu berlangsung secara tajam.
3. Kelompok kecil pada hakekatnya merupakan
sel yang menggerakkan suatu organisme yang dinamakan masyarakat.
4. Kelompok kecil merupakan bentuk khusus
dalam kerangka sistem sosial secara keseluruhan.
DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL
Pada dasarnya setiap
kelompok bukanlah suatu kelompok yang bersifat statis, melainkan dinamis. Beberapa
kelompok sosial sifatnya lebih stabil dibandingkan dengan kelompok-kelompok
sosial lainnya. Ada pula kelompok sosial yang mengalami perubahan yang cepat
walaupun tidak mendapatkan pengaruh dari luar. Namun, pada umumnya perubahan
kelompok sosial merupakan akibat dari proses formasi ataupun reformasi dari
pola-pola didalam kelompok tersebut karena pengaruh dari luar. Keadaan yang
tidak stabil ini disebabkan oleh adanya konflik antar individu dalam kelompok
atau konflik antar bagian kelompok tersebut.
Langganan:
Komentar (Atom)