Halaman

Kamis, 25 April 2013

SOAL KD 1 KELOMPOK SOSIAL

Untuk latihan soal dan jawabannya bisa diunduh disini

KD 1. KELOMPOK SOSIAL KLAS XI SEMESTER GENAP


PENGERTIAN KELOMPOK SOSIAL

Secara sosiologis pengertian kelompok sosial adalah suatu kumpulan orang-orang yang mempunyai hubungan dan saling berinteraksi satu sama lain dan dapat mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama. Selain definisi tersebut, ada beberapa ahli yang memberikan definisi mengenai kelompok sosial.

1.    Joseph S. Roucek dan Roland S. Warren
Kelompok sosial adalah suatu kelompok yang memiliki dua atau lebih manusia, yang diantara mereka terdapat beberapa pola interaksi yang dapat dipahami oleh para anggotanya atau orang lain secara keseluruhan.
2.    D. A. Wila Huky
Kelompok sosial adalah suatu unit yang terdiri atas dua orang atau lebih yang saling berinteraksi satu sama lainnya.
3.    Mayor Polak
Kelompok sosial adalah suatu group. Yaitu sejumlah orang yang saling berhubungan satu sama lain dan hubungan itu bersifat sebagai struktur sosial.

            Dalam suatu kelompok masyarakat, seseorang harus dapat membedakan dua kepentingan, yaitu ia sebagai makhluk individu dan sekaligus sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk individu, manusia pada dasarnya mempunyai hasrat yang besar untuk mengutamakan kepentingan diri sendiri. Namun, sebagai makhluk sosial, manusia tidak mungkin dapat hidup tanpa bantuan orang lain secara berkelompok. Bahkan, tidak ada satupun manusia yang dapat hidup tanpa adanya bantuan orang lain disekitarnya. Oleh karena itu, di dalam kelompok itulah manusia dapat meneruskan keturunannya secara wajar.
Dalam proses pembentukan suatu kelompok sosial, terdapat beberapa ciri dasar dari suatu kelompok. Menurut D. A. Wila Huky, ciri dasar tersebut adalah :
1.    Kelompok selalu terdiri atas paling sedikit dua orang dan dapat terus bertambah jumlah anggotanya. Dua orang ini haruslah orang yang dapat memberikan respons mental.
2.    Kelompok-kelompok sebenarnya tidak selalu terbentuk karena memenuhi persyaratan jumlah anggotanya, yang terpenting adalah di antara mereka ada saling interaksi dan komunikasi.
3.    Komunikasi dan interaksi yang merupakan unsur pokok suatu kelompok harus bersifat timbal balik. Komunikasi satu arah tidak membentuk interaksi dalam kelompok. Anggota-anggota kelompok harus saling memengaruhi satu sama lain.
4.    Kelompok-kelompok itu bisa sepanjang hidup atau jangka panjang, tetapi juga bisa bersifat sementara atau jangka pendek. Kelompok-kelompok ini ada hanya sepanjang adanya interaksi timbal balik.
5.    Kelompok dan ciri kehidupan kelompok juga dapat ditemukan di antara kehidupan binatang. Misalnya semut, kera, harimau, dan sebagainya.
6.    Minat dan kepentingan bersama merupakan warna utama pembentukan kelompok. Walaupun demikian, dapat juga pembentukan kelompok tanpa adanya persamaan minat dan kepentingan.
7.    Pembentukan kelompok dapat berdasarkan pada situasi yang beraneka ragam, di mana dalam situasi itu manusia dituntut untuk bersatu.
8.    Kelompok merupakan satu kesatuan dalam dirinya sendiri. la memiliki warna dan ciri sendiri yang berbeda dari lainnya, bahkan berbeda dengan anggota-anggotanya secara pribadi.

PROSES TERBENTUKNYA KELOMPOK SOSIAL

Menurut Abdul Syani, terbentuknya suatu kelompok sosial karena adanya naluri manusia yang selalu ingin hidup bersama. Hal itulah sebabnya, maka dalam masyarakat manusia dapat dipersamakan dengan masyarakat binatang. Manusia sejak dilahirkan di dunia ini sudah mempunyai kecenderungan atas dasar dorongan nalurinya secara biologis untuk hidup berkelompok. Namun, dalam perkembangan selanjutnya manusia hidup tidak hanya sekadar membutuhkan hidup secara biologis belaka, akan tetapi manusia mempunyai kehendak dan kepentingan yang tak terbatas. Oleh karena itulah, manusia selalu hidup berkelompok untuk  dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Anderson dan Parker menekankan bahwa kelompok adalah kesatuan dari dua atau lebih individu yang mengalami interaksi psikologis satu sama lain. Manusia membutuhkan komunikasi dalam membentuk kelompok, karena melalui komunikasi orang dapat mengadakan ikatan dan pengaruh psikologis secara timbal balik. Komunikasi dan interaksi ini selanjutnya akan mengakibatkan terbentuknya norma sosial. Ada dua hasrat pokok yang dimiiiki manusia sehingga ia terdorong untuk hidup berkelompok, yaitu:
1.    Hasrat untuk bersatu dengan manusia lain di sekitarnya.
2.    Hasrat untuk bersatu dengan situasi alam sekitamya.       
Secara kodrati, memang harus diakui bahwa manusia dalam hidupnya harus bermasyarakat. Manusia yang hidup sendiri dan tidak bermasyarakat dianggap tidak wajar, bahkan mungkin bisa sakit jiwa atau mati. Mengapa demikian ? Diskusikanlah jawabannya melalui kelompok belajarmu di rumah.
SYARAT KELOMPOK SOSIAL

Setiap kelompok manusia tidak selalu dinamakan sebagai kelompok sosial. Karena  sebuah kelompok sosial memerlukan beberapa persyaratan tertentu. Berikut ini beberapa persyaratan sebuah kumpulan manusia dapat disebut sebagai kelompok sosial, yaitu:
1.        Setiap anggota harus sadar bahwa dia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan.
2.        Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dan anggota yang lainnya dalam kelompok itu.
3.        Ada suatu faktor yang dimilik bersama sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Faktor tersebut dapat berupa nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama, dan sebagainya. Bahkan, faktor luar yang berupa musuh bersama juga dapat menjadi faktor pengikat untuk bersatu.
4.        Berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku. Emile Durkheim memandang kelompok manusia dari dua segi, yaitu segi mekanik dan segi organisatorik fungsional. Bentuk mekanik merupakan suatu bentuk yang naluriah, yang ditentukan oleh pengaruh ikatan geografis, biogenesis, dan keturunan lebih lanjut. Ikatan kelompok ini hanya mencapai taraf solidaritas mekanik, sedangkan ikatan organisatoris fungsional merupakan hasil kesadaran manusia atau keinginan yang rasional.
5.        Bersistem dan berproses.


Ada beberapa macam kelompok sosial yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
Kelompok sosial, menurut Soerjono Soekanto dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam, yaitu :
a.       Berdasarkan Besar Kecilnya Anggota Kelompok
Menurut George Simmel, besar kecilnya jumlah anggota kelompok akan memengaruhi kelompok dan pola interaksi sosial dalam kelompok tersebut. Dalam penelitiannya, Simmel memulai dari satu orang sebagai perhatian hubungan sosial yang dinamakan monad. Kemudian monad dikembangkan menjadi dua orang atau diad, dan tiga orang atau triad, dan kelompok-kelompok kec؛l lainnya. Hasilnya semakin banyak jumlah anggota kelompoknya, pola interaksinya juga berbeda.
b.      Berdasarkan Derajat Interaksi dalam Kelompok
Derajat interaksi ini dapat dilihat pada beberapa kelompok sosial yang berbeda. Kelompok sosial seperti keluarga, rukun tetangga, masyarakat desa, akan mempunyai kelompok yang anggotanya saling mengenal dengan baik (face-to-face groupings). Hal ini berbeda dengan kelompok sosial seperti masyarakat kota, perusahaan, atau negara, di mana anggota-anggotanya tidak mempunyai hubungan yang erat.

c.       Berdasarkan kepentingan dan wilayah
Sebuah masyarakat setempat (community) merupakan suatu kelompok sosial atas dasar wilayah yang tidak mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu. Sedangkan asosiasi (association) adalah sebuah kelompok sosial yang dibentuk untuk memenuhi kepentingan tertentu. Jadi, antara anggota sebuah community dan association harus menyadari adanya kepentingan-kepentingan bersama walaupun tidak secara terperinci.
d.      Berdasarkan Kelangsungan Kepentingan
Adanya kepentingan bersama merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terbentuknya sebuah kelompok sosial. Suatu kerumunan misalnya, merupakan kelompok yang keberadaannya hanya sebentar karena kepentingannya juga tidak berlangsung lama. Namun, sebuah community mempunyai kepentingan yang relatif tetap (permanen).
e.       Berdasarkan derajat organisasi
Kelompok sosial terdiri atas kelompok-kelompok sosial yang terorganisasi dengan    rapi, seperti negara, TNI, perusahaan, dan sebagainya. Namun, ada kelompok sosial yang hampir tidak terorganisiasi dengan baik, seperti : kerumunan.

Secara umum tipe-tipe kelompok sosial adalah :
a.       Kategori statistik, yaitu pengelompokan atas dasar ciri tertentu yang sama, misalnya kelompok umur.
b.      Kategori sosial, yaitu kelompok individu yang sadar akan ciri-ciri yang dimiliki bersama, misainya ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia).
c.       Kelompok sosial, misalnya keluarga batih.
d.      Kelompok tidak teratur, yaitu berkumpulnya orang-orang di suatu tempat pada waktu yang sama karena adanya pusat perhatian yang sama. Misalnya, orang yang sedang menonton sepak bola.
e.       Organisasi formal, yaitu kelompok yang sengaja dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditentukan terlebih dulu, misalnya perusahaan.

2.     Kelompok Sosial Dipandang dari Sudut Individu
Pada masyarakat yang kompleks, biasanya setiap manusia tidak hanya mempunyai satu kelompok sosial tempat ia menjadi anggotanya. Namun, ada juga menjadi anggota beberapa kelompok sosial sekaligus. Terbentuknya kelompok-kelompok sosial ini biasanya didasari oleh kekerabatan, usia, jenis kelamin, pekerjaan, atau kedudukan. Keanggotaan masing-masing kelompok sosial tersebut akan memberikan kedudukan dan prestise tertentu. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah sifat keanggotaan suatu kelompok tidak selalu bersifat sukarela, tapi ada juga yang sifatnya paksaan. Misalnya, selain sebagai anggota kelompok di tempatnya bekerja, Pak Tomo juga anggota masyarakat, anggota perkumpulan bulu tangkis, anggota Ikatan Advokat Indonesia (IAI), anggota keluarga, anggota paguyuban  masyarakat Jawa, dan sebagainya.

3.     In-Group dan Out-Group
Sebagai seorang individu, kita sering merasa bahwa aku termasuk dalam bagian kelompok keluargaku, margaku, profesiku, rasku, suku bangsaku, jenis keiaminku, dan negaraku. Semua kelompok tersebut berakhir dengan kepunyaan ku’’. Itulah yang dinamakan kelompok sendiri karena aku termasuk di dalamnya. Banyak kelompok lain, di mana aku tidak termasuk keluarga, ras, suku bangsa, jenis kelamin, pekerjaan, kebangsaan, agama, dan kelompok bermain. Semua itu merupakan kelompok luar karena aku berada di luarnya.
Mengutip pendapat R.M. Mac Iver dan C.H. Page, bahwa di dalam sebuah proses sosialisasi, orang mendapatkan pengetahuan antara kami”-nya dengan mereka”-nya yang dibuat oleh individu. Kelompok sosial di mana individu mengidentifikasikan dirinya, merupakan in-group-nya.  Jadi, apabila suatu kelompok sosial merupakan in-group atau tidak, bersifat relatif dan bergantung pada situasi sosial tertentu. Sedangkan out-group diartikan oleh individu sebagai kelompok yang menjadi lawan in-group- nya. la sering dikatakan dengan istilah “kami” atau “kita” dan “mereka”, seperti kita siswa SMA sedangkan mereka mahasiswa, kami siswa jurusan IPS sedangkan mereka siswa jurusan IPA, kami siswa kelas dua sedangkan mereka siswa kelas satu, dan sebagainya. Sikap-sikap in-group pada umumnya didasarkan pada faktor simpati dan selalu mempunyai perasaan dekat dengan anggota-anggota kelompok.
In-group dan out-group dapat dijumpai di semua masyarakat, walaupun kepentingan- kepentingannya tidak selalu sama. Pada masyarakat primitif yang masih terbelakang kehidupannya biasanya akan mendasarkan diri pada keluarga yang akan menentukan kelompok sendiri dan kelompok luar seseorang. Jika ada dua orang yang saling tidak kenal berjumpa maka hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari hubungan antara keduanya. Jika mereka dapat menemukan adanya hubungan keluarga maka keduanya pun akan bersahabat karena keduanya merupakan anggota dari kelompok yang sama. Namun, jika mereka tidak dapat menemukan adanya kesamaan hubungan keluarga maka mereka adalah musuh sehingga merekapun akan bereaksi.
Pada masyarakat modern, setiap orang mempunyai banyak kelompok sehingga mungkin saja saling tumpah tindih dengan kelompok luarnya. Siswa lama selalu memperiakukan siswa baru sebagai kelompok luar, tetapi ketika berada di dalam gedung olahraga mereka pun bersatu untuk mendukung tim sekolah kesayangannya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa setiap kelompok sosial merupakan in-group bagi anggotanya. Konsep tersebut dapat diterapkan baik terhadap kelompok - kelompok sosial yang relatif kecil sampai yang terbesar selama para anggotanya mengadakan identifikasi dengan Kelompoknya.

4.      Kelompok Primer (Primary Group) dan Kelompok Sekunder (Secondary Group)
Menurut Charles Horton Cooley, kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang ditandai dengan ciri-ciri saling mengenal antara anggota-anggotanya serta kerja sama erat yang bersifat pribadi. Sebagai salah satu hasil hubungan yang erat dan bersifat pribadi tadi adalah adanya peleburan individu- individu ke dalam kelompok-kelompok sehingga tujuan individu menjadi tujuan kelompok juga. Oleh karena itu, hubungan sosial di dalam kelompok primer bersifat informal (tidak resmi), akrab, personal, dan total yang mencakup berbagai aspek pengalaman hidup seseorang.
Dalam kelompok primer, seperti : keluarga, klan, atau sejumlah sahabat, hubungan sosial cenderung bersifat santai. Para anggota kelompok saling tertarik satu sama lainnya sebagai suatu pribadi. Mereka menyatakan harapan-harapan dan kecemasan-kecemasan, berbagai pengalaman, mempergunjingkan gosip, dan saling memenuhi kebutuhan akan keakraban sebuah persahabatan.
Di sisi lain, kelompok sekunder adalah kelompok-kelompok besar yang terdiri atas banyak orang, antara dengan siapa hubungannya tidak perlu           berdasarkan pengenalan secara pribadi dan sifatnya juga tidak begitu langgeng.  Dalam kelompok sekunder, hubungan sosial bersifat formal, impersonal, dan segmental (terpisah), serta didasarkan pada asas manfaat ( Utilitarian ). Seseorang tidak berhubungan dengan orang lain sebagai suatu pribadi, tetapi sebagai seseorang yang berfungsi dalam menjalankan suatu peran. Kualitas pribadi tidak begitu penting, tetapi cara kerjanya.
Kelompok sekunder dapat berbentuk serikat pekerja, kerja sama dagang, Persatuan Orang Tua Murid dan Guru ( POMG ), atau hanya terdiri atas dua orang individual yang tawar-menawar secara singkat di depan loket pembayaran. Kelompok ini lahir hanya untuk memenuhi sebagian tujuan khusus dan terbatas yang hanya melibatkan sebagian dari kepribadian para anggotanya.

5.       Paguyuban (Gemeinschaft) dan Patembayan (Gesellschaft)
Konsep paguyuban (gemeinschaft) dan patembayan (gesellschaft) merupakan konsep yang kurang lebih sama dengan konsep kelompok primer dan kelompok sekunder yang dikembangkan oleh Ferdinand Tonnies. Kedua istilah ini secara umum dapat diterjemahkan sebagai komunitas (community) dan masyarakat (society).
Pengertian paguyuban adalah suatu bentuk kehidupan bersama, di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah, serta kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan. Kehidupan tersebut juga bersifat nyata dan organis, sebagaimana diumpamakan dengan organ tubuh manusia atau hewan. Bentuk paguyuban terutama akan dijumpai di dalam keluarga, kelompok kekerabatan, rukun tetangga, dan sebagainya. Secara umum, ciri-ciri paguyuban adalah :
1.        Intimate, yaitu hubungan yang bersifat menyeluruh dan mesra.
2.        Private, yaitu hubungan yang bersifat pribadi dalam arti khusus untuk beberapa orang saja.
3.        Exclusive, yaitu hubungan tersebut hanyaiah untuk kita” saja dan tidak untuk orang lain di luar kita”.
Di dalam paguyuban terdapat kemauan bersama (common will), adanya suatu pengertian (understanding), serta kaidah-kaidah yang timbul dengan sendirinya dari kelompok tersebut. Apabila ada pertentangan antara anggota paguyuban tidak dapat diselesaikan dalam satu hal saja. Hal ini disebabkan adanya hubungan yang menyeluruh antara anggota-anggotanya. Oleh karena itu, suatu pertentangan yang kecil harus diatasi, agar tidak menjalar ke bidang-bidang lainnya.
Di dalam setiap masyarakat selalu dapat dijumpai salah satu di antara tiga tipe paguyuban berikut.
1.        Paguyuban karena ikatan darah (gemeinschaft by blood), yaitu gemeinschaft atau paguyuban yang merupakan ikatan yang didasarkan pada ikatan darah atau keturunan. Misalnya, keluarga dan kelompok kekerabatan.
2.        Paguyuban karena tempa؛ (gemeinschaft of place), yaitu suatu paguyuban yang terdiri atas orang- orang yang berdekatan tempat tinggal sehingga dapat saling tolong-menolong. Misalnya kelompok arisan dan rukun tetangga.
3.        Paguyuban karena jiwa pikiran (gemeinschaft of mind), yaitu paguyuban yang terdiri atas orang- orang yang walaupun tidak mempunyai hubungan darah ataupun tempat tinggalnya tidak berdekatan, akan tetapi mereka mempunyai jiwa, pikiran, dan ideologi yang sama. Ikatan pada paguyuban semacam ini biasanya tidak sekuat paguyuban karena darah atau keturunan.
Sebaliknya, patembayan (gesellschaft) adalah ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu tertentu yang pendek. Patembayan bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka (imaginary) serta strukturnya bersifat mekanis seperti sebuah mesin. Bentuk gesellschaft terutama terdapat di dalam hubungan perjanjian yang bersifat timbal balik. Misalnya, ikatan perjanjian kerja, birokrasi dalam suatu kantor, perjanjian dagang, dan sebagainya.
Dalam patembayan terdapat public life, yaitu suatu hubungan yang bersifat untuk semua orang. Batas-batas antara kami dengan bukan kami” sangat kabur. Pertentangan-pertentangan yang terjadi antara anggota dapat dibatasi pada bidang-bidang tertentu sehingga persoalan dapat dilokalisasi.

6.     Formal Group dan Informal Group
Menurut Soerjono Soekanto,  formal group adalah kelompok yang mempunyai peraturan yang tegas dan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antara sesamanya. Kriteria rumusan organisasi formal group merupakan keberadaan tata cara untuk memobilisasikan dan mengoordinasikan usaha-usaha demi tercapainya tujuan berdasarkan bagian-bagian organisasi yang bersifat khusus. Jika hubungan anggota formal group dan 'semua kegiatan didasarkan pada aturan sebelumnya yang sudah ditentukan, tidak semua masalah dapat ditanggulangi. Hal ini karena proses interaksi sosial dan kegiatan dalam organisas؛ tidak mungkin dapat dijalankan semua.
Organisasi biasanya ditegakkan pada landasan mekanisme administratif. Misalnya, sekolah terdiri atas beberapa bagian, seperti kepala sekolah, guru, siswa, orang tua murid, bagian administrasi, dan lingkungan sekitarnya. Organisasi seperti itu biasanya dinamakan birokrasi. Menurut Max Weber, organisas؛ yang didirikan secara birokrasi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a.         Tugas-tugas organisasi didistribusikan dalam beberapa posisi yang merupakan tugas-tugas jabatan.
b.         Posisi dalam organisasi terdiri atas hierarki struktur wewenang.
c.         Suatu sistem peraturan memengaruhi keputusan dan pelaksanaannya.
d.        Unsur staf yang merupakan pejabat, bertugas memelihara organisasi dan khususnya keteraturan organisasi.
e.         Para pejabat berharap agar hubungan atasan dengan bawahan dan pihak lain bersifat orientas؛ impersonal.
f.          Penyelenggaraan kepegawaian didasarkan pada karier.
Sedangkan pengertian informal group adalah kelompok yang tidak mempunyai struktur dan organisasi yang pasti. Kelompok-kelompok tersebut biasanya terbentuk karena pertemuan-pertemuan yang berulang kali. Dasar pertemuan-pertemuan tersebut adalah kepentingan-kepentingan dan pengalaman-pengalaman yang sama. Misalnya klik (clique), yaitu suatu kelompok kecil tanpa struktur formal yang sering timbul dalam kelompok-kelompok besar. Klik tersebut ditandai dengan adanya pertemuan-pertemuan timbal balik antaranggota yang biasanya hanya antarkita” saja.

7.      Membership Group dan Reference Group
Mengutip pendapat Robert K. Merton, bahwa membership group adalah suatu kelompok sosial, di mana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Batas-batas fisik yang dipakai untuk menentukan keanggotaan seseorang tidak dapat ditentukan secara mutlak. Hal ini disebabkan perubahan-perubahan keadaan. Situasi yang tidak tetap akan memengaruhi derajat interaksi di dalam kelompok tadi sehingga adakalanya seorang anggota tidak begitu sering berkumpul dengan kelompok tersebut walaupun secara resmi dia belum keluar dari kelompok itu. Keadaan seperti ini dapat dijumpai pada kelompok informal (informal group),
Reference group adalah kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang ( bukan anggota kelompok ) untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Dengan kata lain, seseorang yang bukan anggota kelompok sosial bersangkutan mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok tadi. Misalnya, seseorang yang ingin sekali menjadi anggota TNI, tetapi gagal memenuhi persyaratan untuk memasuki lembaga pendidikan militer. Namun, ia bertingkah laku layaknya seorang perwira TNI meskipun dia bukan anggota TNI.

Beberapa tipe umum dari reference group antara lain:
a.         Tipe normatif (normative type) yang menentukan dasar-dasar bagi kepribadian seseorang.
b.        Tipe perbandingan (comparison type) yang merupakan pegangan bagi individu di dalam menilai kepribadiannya.
Antara membership group dan reference group sulit sekali dipisahkan. Contohnya saja seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Seorang Anggota Dewan Perwakilan Rakyat merupakan membership group bagi dirinya, akan tetapi jiwa dan jalan pikirannya tetap terikat pada reference group-nya, yaitu partai politik. Hal ini sering membawa dampak negatif karena anggota dewan yang terhormat tadi terlampau berpegang pada prinsip-prinsip reference group.

8.     Kelompok Okupasional dan Volunteer
Pada awalnya suatu masyarakat, menurut Soerjono Soekamto, dapat melakukan berbagai pekerjaan sekaligus. Artinya, di dalam masyarakat tersebut belum ada pembagian kerja yang jelas. Akan tetapi, sejalan dengan kemajuan peradaban manusia, sistem pembagian kerja pun berubah. Salah satu bentuknya adalah masyarakat itu sudah berkembang sistem pembagian kerja yang didasarkan pada kekhususan atau spesialisasi. Warga masyarakat akan bekerja sesuai dengan bakatnya masing-masing. Bahkan saat ini sudah bermunculan pabrik-pabrik dimana pekerjanya hanya bertanggungjawab atas satu unsur tertentu saja dari keseluruhan hasil produksi. Setelah kelompok kekerabatan yang semakin pudar fungsinya, muncul kelompok okupasional yang merupakan kelompok terdiri atas orang-orang yang mengarahkan kepribadian seseorang terutama para anggotanya.
Dengan semakin berkembangnya masyarakat, pengkhususan juga dikembangkan secara ilmiah dan dipusatkan pada lembaga-lembaga pendidikan. Mereka yang lulus dari lembaga tersebut akan menjadi tenaga yang terampil dan menguasai ilmu yang dipelajarinya. Melalui keahliannya mereka membantu masyarakat untuk melaksanakan fungsi-fungsi tertentu.
Sejalan dengan berkembangnya teknologi komunikasi, hampir idak ada masyarakat yang tertutup dari dunia luar. Sehingga ruang jangkauan suatu masyarakat pun semakin luas. Meluasnya ruang jangkauan ini mengakibatkan semakin heterogennya masyarakat tersebut. Akhirnya tidak semua kepentingan individual warga masyarakat dapat dipenuhi.
Akibat dari tidak terpenuhinya kepentingan-kepentingan masyarakat secara keseluruhan, munculah kelompok volunteer. Kelompok ini mencakup orang-orang yang mempunyai kepentingan sama, namun tidak mendapatkan perhatian masyarakat yang semakin luas jangkauannya tadi. Dengan demikian, kelompok volunteer dapat memenuhi kepentingan-kepentingan anggotanya secara individual tanpa mengganggu kepentingan masyarakat secara luas.
Beberapa kepentingan itu, antara lain :
a.         Kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan.
b.        Kebutuhan akan keselamatan jiwa dan harta benda.
c.         Kebutuhan akan harga diri.
d.        Kebutuhan untuk mengembangkan potensi diri.
e.         Kebutuhan akan kasih sayang.

KONSEKUENSI PERUBAHAN SOSIAL, EKONOMI, POLITIK, DAN BUDAYA TERHADAP PERKEMBANGAN KELOMPOK SOSIAL
           
Perkembangan kelompok sosial akan menentukan kehidupan kelompok di masa yang akan datang. Apalagi perkembangan masyarakat yang semakin kompleks dengan adanya heterogenitas dan spesialisasi dalam berbagai bidang kehidupan, maka diperlukan adanya kelompok-kelompok sosial yang resmi.
            Dalam perkembangannya, masyarakat dapat dikelompokkan menjadi dua. Yaitu masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan. Masyarakat pedesaan merupakan masyarakat yang umumnya memiliki mata pencaharian bertani atau berkebun. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar kekeluargaan dan mempunyai hubungan sosial yang erat serta mendalam diantara anggotanya.
            Sedangkan masyarakat kota merupakan kelompok sosial yang mendiami wilayah yang luas. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di sektor industri, hasa, dan perdagangan. Keanggotaan masyarakat kota tidak saling mengenal, lebih terikat kontrak, dan mulai meninggalkan tradisi. Apabila dilihat lebih jauh, maka perkembangan sosial, ekonomi, politik, dan budaya akan mempengaruhi perkembangan kelompok sosial.

1.    Sosial
Dalam perkembangan kehidupan manusia, kelompok-kelompok sosial akan terus mengalami perubahan. Sistem kekerabatan sudah mulai memudar dan digantikan dengan kelompok-kelompok sosial yang bersifat resmi. Hubungan yang erat hanya terdapat pada lingkungan keluarga. Sistem komunikasi sudah digantikan dengan interaksi yang tidak langsung. Masyarakat lebih suka menggunakan telepon dan internet dalam melakukan hubungan sosial dari pada harus bertemu secara langsung. Nilai-nilai kehidupan sosial sudah berdasarkan nilai kontrak kerja dan nilai individualistis. Masyarakat lebih suka bergabung dengan kelompok-kelompok sosial berdasarkan profesi atau hobbynya secara formal, seperti Ikatan Dokter Indonesia ( IDI ), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia ( ISEI ), Serikat Buruh Indonesia ( SBI ), dan sebagainya.

2.    Ekonomi
Ekonomi merupakan aspek yang berhubungan dengan upaya manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan jumlah alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas, maka manusia menciptakan adanya prinsip-prinsip ekonomi, yaitu dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk menghasilkan barang dan jasa yang sebesar-besarnya. Akhirnya manusia akan menciptakan kelompok-kelompok ekonomi, seperti sistem pertukaran barang dan jasa, koperasi, serikat buruh, perseroan terbatas, dan sebagainya.
Bagi masyarakat kota, perkembangan ekonominya dapat dilihat dari pembangunan pasar swalayan dan pusat-pusat perbelanjaan yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang memudahkan orang untuk bertransaksi. Transaksi jual-beli pun sudah berkembang, selain menggunakan uang tunai, juga menggunakan sistem kartu debit dan kartu kredit. Bagi masyarakat desa, perkembangan ekonominya relatif lebih lambat. Masyarakatnya akan cenderung mempertahankan sistem lama, dengan alasan lebih mudah dan di anggap aman. Akibatnya perkembangan sistem ekonomi antara masyarakat desa dengan masyarakat kota sangat berbeda.

3.    Politik
Tingkat kesadaran politik masyarakat desa lebih rendah daripada masyarakat kota. Adanya perkembangan sistem komunikasi dan informasi yang semakin canggih menyebabkan masyarakat kota lebih kritis terhadap kehidupan politik. Partai-partai politik pun semakin berkembang menyatukan masyarakat yang mempunyai ideologi yang sama. Apabila terdapat perbedaan paham antara masyarakat dengan pemerintah, maka masyarakat kota cenderung lebih berani memberikan kritik dan saran kepada pemerintah.

4.    Budaya
Perkembangan budaya masyarakat desa cenderung lebih lambat daripada masyarakat kota. Budaya-budaya lama akan cenderung bertahan lebih lama. Hal ini berbeda dengan masyarakat kota yang terbuka terhadap berbagai macam perubahan sosial. Masyarakat kota cenderung lebih cepat menerima kebudayaan-kebudayaan asing yang memasuki wilayahnya. Akibatnya kebudayaan masyarakat kota cenderung lebih kompleks dan senantiasa mengalami perubahan.


KELOMPOK SOSIAL YANG TIDAK TERATUR
            Setelah membahas macam-macam kelompok yang teratur, kini saatnya untuk membahas kelompok yang tidak teratur. Kelompok tidak teratur, misalnya : Kerumunan dan Publik.
1.    Kerumunan ( Crowd )
Kerumunan adalah sekelompok individu yang berkumpul secara kebetulan disuatu tempat pada waktu yang bersamaan. Ukuran utama adanya kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara fisik. Sedikit banyaknya jumlah kerumunan adalah sejauh mata dapat melihat dan selama telinga dapat mendengarkannya. Kerumunan tersebut segera mati stelah orang-orangnya bubar. Oleh karena itu, kerumunan merupakan suatu kelompok sosial yang bersifat sementara ( temporer ).
Kerumunan jelas tidak terorganisasi. Ia dapat mempunyai pimpinan, akan tetapi tidak mempunyai sistem pembagian kerja maupun sistem pelapisan sosial. Artinya, interaksi didalamnya bersifat spontan dan tidak terduga, serta orang-orang yang hadir dan berkumpul mempunyai kedudukan sosial yang sama. Akibatnya, identitas seseorang biasanya akan tenggelam apabila orang yang bersangkutan ikut serta dalam kerumunan.
Secara garis besar, Kingsley Davis membedakan bentuk kerumunan menjadi :
a.       Kerumunan yang Berartikulasi dengan Struktur Sosial
Kerumunan ini dibedakan menjadi :
1)      Khalayak penonton atau pendengar yang formal ( Formal Audiences ), merupakan kerumunan yang mempunyai pusat perhatian dan tujuan yang sama. Misalnya, menonton film, mengikuti kampanye politik, dan sebagainya.
2)      Kelompok expressive yang telah direncanakan ( Planned Expressive Group ), yaitu kerumunan yang pusat perhatiannya tidak begitu penting, akan tetapi mempunyai persamaan tujuan yang tersimpul dalam aktivitas kerumunan tersebut.

b.      Kerumunan yang Bersifat Sementara ( Casual Crowds )
Kerumunan ini dibedakan menjadi :
1)      Kumpulan yang kurang menyenangkan ( inconvenient aggregation ). Misalnya : orang yang sedang antri tiket, orang-orang yang menunggu kereta.
2)      Kerumunan orang-orang yang sedang dalam keadaan panik ( panic crowds ), yaitu orang-orang yang bersama-sama berusaha untuk menyelamatkan diri dari bahaya. Dorongan dalam diri individu-individu yang berkerumun tersebut mempunyai kecenderungan untuk mempertinggi rasa panik. Misalnya, ada kebakaran dan gempa bumi.
3)      Kerumunan penonton ( spectator crowds ), yaitu kerumunan yang terjadi karena ingin melihat kejadian tertentu. Misalnya, ingin melihat korban lalu lintas.
c.       Kerumunan yang Berlawanan dengan Norma-norma Hukum ( Lawless Crowds )
Kerumunan ini dapat dibedakan menjadi :
1)      Kerumunan yang bertindak emosional ( acting mobs ), yaitu kerumunan yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan kekuatan fisik yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Misalnya : aksi demokrasi.
2)      Kerumunan yang bersifat immoral ( immoral crowds ), yaitu kerumunan yang hampir sama dengan kelompok expressive. Bedanya adalah bertentangan dengan norma-norma masyarakat. Misalnya : orang-orang yang mabuk.

2.    Publik
Berbeda dengan kerumunan. Publik lebih merupakan kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi terjadi secara tidak langsung melalui alat-alat komunikasi, seperti pembicaraan pribadi yang berantai, desas-desus, surat kabar, radio, televisi, film, dan sebagainya. Alat-alat penghubung semacam ini lebih memungkinkan suatu publik mempunyai pengikut-pengikut yang lebih luas dan lebih besar. Akan tetapi, karena jumlahnya sangat besar, tidak ada pusat perhatian yang tajam, sehingga kesatuan juga tidak ada.
MASYARAKAT SETEMPAT ( COMMUNITY )
            Masyarakat setempat adalah suatu masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah ( dalam arti geografi ) dengan batas-batas tertentu. Faktor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar diantara anggota dibandingkan dengan interaksi penduduk diluar batas wilayahnya.
            Secara garis besar, masyarakat setempat berfungsi sebagai ukuran untuk menggarisbawahi Kedekatan hubungan antara hubungan sosial dengan suatu wilayah geografis tertentu. Akan tetapi, tempat tinggal tertentu saja belum cukup untuk membentuk suatu masyarakat setempat. Hal ini masih dibutuhkan adanya perasaan komunitas ( Community Sentiment )
1.    Seperasaan
Unsur seperasaan akibat seseorang berusaha untuk mengidentifikasikan dirinya dengan sebanyak mungkin orang alam kelompok tersebut. Akibatnya, mereka dapat menyebutnya sebagai “Kelompok Kami” atau “Perasaan Kami”.

2.    Sepenanggungan
Setiap individu sadar akan peranannya dalam kelompok dan keadaan masyarakat sendiri memungkinkan peranannya dalam kelompok.

3.    Saling Memerlukan
Individu yang bergabung dalam masyarakat setempat merasakan dirinya tergantung pada komunitas yang meliputi kebutuhan fisik maupun biologis.
      
       Untuk mengklasifikasikan masyarakat setempat, dapat digunakan empat kriteria yang saling berhubungan, yaitu :
1.    Jumlah penduduk.
2.    Luas, kekayaan, dan kepadatan penduduk daerah pedalaman.
3.    Fungsi-fungsi khusus masyarakat setempat terhadap seluruh masyarakat.
4.    Organisasi masyarakat yang berangkutan.

KELOMPOK KECIL ( SMALL GROUP )
            Kelompok kecil adalah suatu kelompok yang secara teoritis terdiri dari paling sedikit dua orang yang saling berhubungan untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu dan menganggap hubungan itu sendiri penting baginya. Oleh karena itu, kelompok sosial merupakan wadah bagi orang-orang yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama. Kelompok ini selalu timbul dalam kerangka organisasi yang lebih besar dan luas, misalnya keluarga batih.
Kelompok kecil sangat penting untuk dipelajari. Sebab :
1.    Kelompok-kelompok kecil tersebut mempunyai pengaruh yang besar terhadap masyarakat dengan perilakunya.
2.    Dalam kelompok kecil, pertemuan antara kepentingan sosial dan kepentingan individu berlangsung secara tajam.
3.    Kelompok kecil pada hakekatnya merupakan sel yang menggerakkan suatu organisme yang dinamakan masyarakat.
4.    Kelompok kecil merupakan bentuk khusus dalam kerangka sistem sosial secara keseluruhan.

DINAMIKA KELOMPOK SOSIAL
            Pada dasarnya setiap kelompok bukanlah suatu kelompok yang bersifat statis, melainkan dinamis. Beberapa kelompok sosial sifatnya lebih stabil dibandingkan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya. Ada pula kelompok sosial yang mengalami perubahan yang cepat walaupun tidak mendapatkan pengaruh dari luar. Namun, pada umumnya perubahan kelompok sosial merupakan akibat dari proses formasi ataupun reformasi dari pola-pola didalam kelompok tersebut karena pengaruh dari luar. Keadaan yang tidak stabil ini disebabkan oleh adanya konflik antar individu dalam kelompok atau konflik antar bagian kelompok tersebut.